Cerita Hidup Bagian 2

Di luar kompleks tempat tinggal saya, ada sebuah klinik pijat tuna netra. Dengan biaya yang relatif murah para warga di lingkungan sini bisa mendapatkan pemijatan di rumah sendiri selama 2 jam atau lebih. Di klinik pijat itu ada 1 pasangan tuna netra, tidak seperti pemijat lainnya mereka memilih untuk mengontrak rumah sendiri. Kata bibi yang bekerja di rumah saya, tiap hari pasangan yang sudah agak berumur ini berjalan kira-kira 100 langkah dari tempat tinggalnya menuju tempat kerjanya. 

Tiap hari juga pasangan ini berjalan dengan dituntun anak laki-lakinya . Anak umur 6 tahun bermata normal ini dengan sangat lancar dan tanpa sedikitpun rasa takut menuntun kedua orangtuanya berjalan di dekat kali. Menjaga agar mereka tetap berada di posisi yang benar, maklum karena jalan yang mereka susuri tiap hari itu bukanlah jalan besar yang bebas hambatan. 

Ketika kedua orangtuanya bekerja, anak ini dititipkan ke tetangganya. Kemudian sore hari dia menjemput kedua orangtuanya, menuntun mereka kembali ke rumah dengan sebelumnya membeli makanan. Saya pernah melihatnya sekali, ketika bapaknya menggendong anak itu. Kemudian si anak yang wajahnya cukup tampan itu berkata ” turunin aja , saya mau nuntun bapak emak”

Umur 6 tahun, dan suda dilimpahi tanggung jawab sebesar itu untuk menjaga kedua orangtuanya. Dimana dia kadang melewatkan kewajiban main layang-layang bersama teman-temannya untuk dengan bangga menjemput bapak dan ibunya.

Berapa kali kamu pernah merasa kesal terhadap orangtuamu?

Berapa kali kamu mengharapkan ingin keluar dari rumah dan memulai hidup mandiri tanpa diganggu pertanyaan dan pernyataan “Pulang jam berapa? Jangan Malem-Malem!” atau “pergi sama siapa? ngabisin uang berapa?” 

Mungkin sebelum kita mulai kesal karena pertanyaan-pertanyaan itu kita harus mulai memikirkan ” berapa jam yang dulu Mama habiskan di tengah malam untuk merawat saya yang sakit” atau ” jam berapa papa pernah pulang kerja biar dapet uang buat bayar uang sekolah kita”

Karena suatu saat kitalah yang ada di posisi mereka, dan betapa senangnya bila suatu saat anak-anak kita bisa menanyakan “Mama/Papa mau dipijetin ga abis pulang kerja?”

Trackback URL

One Comment on "Cerita Hidup Bagian 2"

  1. admin
    karina
    29/11/2009 at 6:24 am Permalink

    ha! dem. hampir nangis bacanya min x)

Hi Stranger, leave a comment:

ALLOWED XHTML TAGS:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Subscribe to Comments