Cerita Hidup Bagian 1

Saya mempunyai tiga cerita tentang hidup. Ini bukan cerita mengenai saya dan bukan cerita besar tentang perbaikan dunia. Ini cerita nyata tentang kehidupan yang datang dari orang-orang besar. Cerita ini akan dibagi kedalam tiga entry karena terlalu pendek sebuah halaman untuk menuntaskan bertahun-tahun perjalanan hidup kaki seorang manusia.

Sekarang mari kita masuk bagaimana awal saya bisa mendapat tiga cerita ini.  

Selain makan iga bakar, hobi sayang yang lain adalah berjalan kaki dan mengobrol. Ternyata kedua hal itu adalah suatu anugerah yang tampil dalam paket sederhana.  Dengan berjalan kaki saya bisa melihat kehidupan, dan dengan mengobrol saya bisa mencium dan mendengar jam-jam kehidupan tersebut. Karena itulah saya bisa membagi cerita tentang Supir taksi yang anaknya bisa kuliah di Oxford atau Almarhum Kakek Penjual Mie Tek-Tek yang mendapat rejeki gerobak dari Mbak Dewi Lestari. 

Cerita pertama ini adalah cerita istimewa. Karena itulah dia mendapat kesempatan pertama untuk menjadi bagian pertama. Tentang Pak Dudung Pejuang Timbangan.

Hari ini saya mendapat tugas dari Ibu untuk mengambil uang di ATM Mandiri Jalan Riau Bandung (depan KFC). Kebetulan tadi yang mengambil uang cukup banyak jadi saya harus menunggu cukup lama. Tiba-tiba mata saya tertuju pada seorang Kakek yang sedang duduk dengan lemasnya di lantai. Seperti sedang menunggu seseorang ,kakek tua yang memakai kacamata, berkemeja biru ini memperhatikan orang-orang yang keluar masuk ATM dan memanggil mereka dengan suara lemah sehingga tidak jelas dia mengatakan apa. Di depannya terletak sebuah timbangan. Iya, timbangan badan. Saya terheran-heran. Sedang apa Kakek ini? Apa dia duduk karena capek menunggu antrian? Kenapa ada timbangan di depannya, mungkin dia baru beli timbangan lalu karena tidak kuat dibawa jadi benda itu diletakkan di depannya? Atau masa sih dia menawarkan jasa menimbang badan?! Karena logikanya sekarang semua orang sudah punya timbangan di rumahnya. And seriously, siapa yang mau menimbang badan di tempat seumum Bank?! 

Tergelitik, saya pun menghampirinya. Dia tersenyum melihat saya. Lalu berkata

“Neng silahkan ditimbang badannya, biayanya terserah Neng saja” 

Saya terkejut. Seorang Kakek menawarkan jasa menimbang badan di tempat umum dengan tidak mematok harga? Walaupun dia pintar sih memilih tempat di depan ATM.  

Pembicaraan selanjutnya pun mengalir. Orang-orang tadi melihat dengan aneh 2 manusia duduk di lantai depan ATM . Yang satu bercerita dan yang satu terpukau mendengarkan. 

Namanya Pak Dudung rumahnya di Kiara Condong (sekitar 20 menit dari Riau kalau pake angkot). Di Bandung ini dia ikut di rumah Pamannya. Menurut ceritanya dia seorang pejuang angkatan 45 dan dia kenal Bung Karno. Saya juga melihat kartu identitasnya dan memang ada tulisan Angkatan 45 dan keterangan lainnya. Umurnya? menurut kartu itu umurnya adalah 100 tahun.Kakek umur 100 tahun yang mestinya sudah bisa menikmati hidup masih harus berjuang untuk makan? Saya kira Indonesia punya UUD pasal 34 Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara.

Kata-katanya sulit dimengerti karena dia sudah tidak punya gigi. Tapi yang bisa saya tangkap adalah kata-kata penuh nasihat dan pembelajaran hidup dari seorang yang tampaknya sudah melihat dunia.

Saya ini pejuang yang tidak dapat uang pensiun. Padahal surat-surat saya lengkap. Nasib veteran, Neng”

[Jika seseorang Veteran Republik Indonesia itu Pegawai Negeri atau menjadi Pegawai Negeri, maka waktu selama ia turut dalam kesatuan-kesatuan seperti tersebut dalam pasal 1 dihitung sebagai masa kerja apabila ia termasuk Veteran Pembela Kemerdekaan, sedangkan apabila ia termasuk Veteran Pejuang Kemerdekaan, dihitung 2 kali lipat sebagai masa kerja penuh dan untuk perhitungan pensiun. -UU nomor 7/1977 pasal 8 ayat 1- ]

“Dulu waktu dipegang Belanda sebenernya hidup ini enak.Saya kira dipegang Indonesia lebih enak lagi tapi kok malah jadi gini”

“Saya mencari uang untuk makan. Yang penting Halal. Jangan sekali-kali makan Uang Haram ya Neng”

“Saya pulang dari sini kalau sudah ada uang untuk beli beras. Kadang ada kadang tidak ada” 

“Jangan pernah sekalipun menolak dimintai bantuan orang tua. Rejeki lancar”

[Dia mengatakan semua itu dengan berapi-api. Hilang semua suara lemahnya tadi. Sebenarnya banyak sekali yang ia sampaikan tetapi susah untuk ditulis disini termasuk rahasianya awet muda.Sampai pada perkataannya yang paling istimewa]

Perempuan itu Mahal. Perempuan itu Jiwa Mahal harus dialusi jangan dikerasi”

[Perempuan itu Jiwa mahal. Perempuan itu Jiwa Mahal. Tidak pernah saya mendengar kalimat seunik ini sebagai penghargaan untuk kaum perempuan. Ditengah-tengah beragam kabar tentang KDRT dan pemutusan hubungan sepihak oleh pria-pria yang sudah bosan terhadap perempuannya-ya ga semua pria kayak gini sih tapi ada aja- Kalimat ini sangat menyejukkan I couldn't agree more]

Sayang pembicaraan ini harus diakhiri karena Ibu sudah menelpon menanyakan mana uangnya. Ironis memang ketika orang-orang keluar dari ruangan itu dengan membawa segepok uang yang kadang dihabiskan untuk urusan tidak jelas,  didepannya ada seorang kakek menawarkan jasa timbangan dengan imbalan sukarela. 

Pembicaraan itu tidak lebih dari 20 menit tapi banyak sekali pelajaran yang bisa didapat. Umur 100 tahun bukan lagi waktu untuk memperjuangkan perut tapi Pak Dudung menjalankannya dengan senyum.Dia seorang pejuang yang membuat orang-orang merdeka. Tapi sekarang membeli beras pun harus bekerja keras. Lantas kenapa manusia yang masih berumur kurang dari 30 tahun senang sekali mengeluh tentang segala hal? Tentunya termasuk saya dan mungkin juga yang membaca tulisan ini. Walaupun susah mungkin sudah saatnya kita mengurangi keluhan ataupun kemalasan. Kalau istilah dari blog teman saya,Freddy : Stop Global Whining. 

Oiya,ini fotonya. Senang sekali Pak Dudung ketika difoto.

 

Ketika saya keluar dari ATM dia masih tersenyum dan menawarkan timbangannya ke orang-orang. Kemudian melihat ke arah saya dan bilang 

“Hidup yang Sehat ya Neng. Assalamualaikum”

“Waalaikumsalam Pak, Terimakasih. Tetap hidup ya Pak”

Trackback URL

, ,

12 Comments on "Cerita Hidup Bagian 1"

  1. admin
    calvin
    03/11/2008 at 5:11 pm Permalink

    ah gw speechless. tapi itu muka orang berumur 100 tahun? kok seperti 80 tahun ya…

  2. admin
    Mya Saraswaty
    03/11/2008 at 5:21 pm Permalink

    Nah itu dia, dia juga nyebutin rahasia awet mudanya, Vin. Tapi kepanjangan ditulis disini.hihi. Di kartunya memang ada tulisan kelahiran 1908..Tunggu cerita 2 dan 3

  3. admin
    yoanitya
    09/11/2008 at 5:33 am Permalink

    I know him! I know where he mangkals! (what’s mangkal in english? hang out? errr… I dont think thats the one).

    oh…ternyata kamu menyebutkan pangkalannya, teman… gw komen dulu baru baca… ceritanya anti-mainstream gitu dehh.. XP

    I should be ashamed of myself. I’m still in my 20s and I’m already bitching about wanting to go on a vacation. He’s in his…well,injury time,, and he’s still working for a living.

    The world should have more people like you, Mya. Because if you hadn’t post this thread, I wouldn’t think of stopping by the next time I go there. Sometimes a smile isn’t enough yaa? Taking time to ask someone how they feel that day would definitely make their day! =)

    There’s no way I’m going to menimbang berat badan gw in public! I’ll just ask for his weight instead…

  4. admin
    eKa
    09/11/2008 at 7:50 am Permalink

    hooooo… posting yang keren…..

    hail mya!

  5. admin
    Ibeth
    13/11/2008 at 9:50 am Permalink

    Woooww, cerita yang keren sekali Mya.
    Touching, tapi mudah dicerna dan membuat berfikir… Thanks for sharing, salam kenal ya :)

  6. admin
    me no stranger
    15/11/2008 at 1:32 pm Permalink

    kLo semua orang kaya pak Dudung, gw yakin masyarakat Indonesia bakal punya mental baja d.. the positiveness within him makes life worth living, walopun sekeras apapun cobaan ngehantam dia…

    salut saya untuk bapak *berdiri, angkat topi, n merunduk hormat*

    walopun ini mungkin gak akan ngebantu dia untuk dapet beras juga… *ironis sekali Indonesia*

  7. admin
    pepito
    24/11/2008 at 4:28 am Permalink

    waw, menginspirasi nih tulisannya.
    kalau di jogja, saya paling gak tega kalo liat nenek” yang jadi buruh angkut kayu bakar. rasanya pingin tereak kok hidup ini gak adil :)

  8. admin
    Andika
    27/11/2008 at 1:29 pm Permalink

    Mya..gw juga pernah interview pa Dudung dulu pas semester 1. Pernah mu ngangkat dia waktu gw masih di In-Docs…

    Ntar gw coba cari file wawancaranya dan gw upload di site gw..mudah2an masih gw simpen.

    Pa Dudung tuh masih nyimpen segala surat-surat yg nunjukkin dia seorang veteran, dan setau gw, dia selalu bawa surat2 itu. Dan dia semangat banget kalo disuruh cerita ttng perjuangan dia jaman dulu…

    Dan yg bikin miris, masih banyak banget pa Dudung yang lain. Dia sempet cerita tentang temen2nya yg sesama veteran dan sama sekali ga dapet apa2 dari negara..miris memang…

    Ntar gw upload kalo udah nemu filenya…

  9. admin
    yoanitya
    29/11/2008 at 4:02 am Permalink

    I truly apologize if by saying what I’m about to say here will break Mya’s and Andika’s heart…

    well, not really. haha.

    so here’s how Pak Dudung ruined my KFC Pudding.
    One fine day, Mya and I was planning to go, err, somewhere. My sense of direction, as told so many times before (and by so many people) is going to hell. So we decided to meet up in KFC Dago. As I was waiting for Mya to arrive, I bought a Pudding (why do I feel like I need to defend my actions?). Anyways, not so very long, Mya arrived and told me she wanted to go see how Pak Dudung is doing sekalian mau ngasih sesuatu. Yes, Mya is nice that way.

    Maka kami pun menyebrang jalan yang hectic luar biasa. di saat matahari tengah terik-teriknya dan debi-debu jalanan menyesakkan relung paru-paru (halah). Mya immediately greeted Pak Dudung sambil bersimbah sopan di sebelahnya. Yes, she is polite that way. (Gila kalo di pikir-pikir kamu tuh menantu idaman banget! udah baek, sopan… ck ck AFGHAN! -read: SADIS!).

    Saya meneruskan menikmati Pudding KFC saya sendirian sambil duduk bersila di sebelah kiri Pak Dudung karena di situ lebih adem, atap tempat ATM menghadang terik mentari yang sungguh afghan. Lalu Mya memperkenalkan saya ke Pak Dudung sebagai temannya. Rasanya sungguh luar biasa! (??)

    Dan Pak Dudung memulai pembicaraan MENGAGUMKAN itu dengan, “Wanita itu mahal!”.

    PD (Pak Dudung) : harus di jaga dengan baik! perempuan juga jangan gampang tergoda rayuan laki-laki! perempuan itu kalau sudah rusak, ya mau gimana ya rusak saja…
    MB (Mya baik) : *manggut-manggut*
    YLM (Yoan Lagi Makan) : *ngga mengakat wajah dari Pudding KFC di tangannya*
    PD : Makanya, coba deh baca mantra XXX (di sensor untuk melindungi nama baik pahlawan kita itu…)
    MB : apa itu Pak ? untuk apa itu?
    PD : untuk cari laki-laki! *menegaskan tatapannya ke YLM*
    MB : ah dia sudah punya, Pak…
    YLM : *mulai tampak menjijikan dengan sendok Pudding KFC*.
    PD : eh, hati-hati lho! laki-laki itu suka merayu! makanya harus cari yang bener! pake mantra XXX, manjur!
    YLM : yang bener itu di doain Pak! bukan pake mantra2 gitu… *sambil nyengir2 menghindari friksi*
    PD : sumpah! manjur ini! coba besok-besok main ke rumah saya di kircon! di sana saya simpan catatannya! nanti saya tuliskan buat situ..
    (hening…)
    PD : saya dulu pake mantra itu juga! cukup tahu nama orangnya saja sudah bisa bekerja! dulu dia ngga mau sama saya… terus saya colek pantatnya! dia marah! peletnya kena kalau orangnya marah! makanya saya pancing!
    YLM dan MB : *berusaha keras ngga menoleh ke satu sama lain*
    PD : eh malamnya itu dia langsung datang ke rumah saya! saya sudah tidur bersama sebelum kawin!
    YLM : *mendadak Pudding KFC tidak terlihat sama lagi*
    MB : *mulai bertanya kenapa segala sesuatu yang berhubungan dengan YLM menjadi berbasu seks*
    PD : coba deh! saya sama dia sudah tidur berdua sebelum kawin!
    YLM : (di tahun 40an, bhok?)
    PD : XXX itu yang paling kuat se dunia! ngga ada yang bisa ngalahin dia! coba deh! pasti dapat laki-laki! coba ke rumah saya deh!
    MB : hehehe *mulai mencari kenyamanan di mata YLM*
    YLM : ok Pak sip sip kita permisi yaa!!

    So there. E Channel’s True Hollywood Story of Pak Dudung. Sorry if I broke anyone’s heart. I just GOTTA tell you this! haha.

  10. admin
    hery
    16/12/2008 at 7:19 am Permalink

    kepada Yoanitya,
    aku kebetulan tengah berpesiar di antara cerita2 yg bertebaran di blog2 siapa saja, dan sampailah pada cerita bapak veteran ini.
    cerita yang cukup menggugah.
    lalu aku membaca komentar dari Yoanitya.
    aku hanya menjadi sedikit bingung, apa tujuan anda menuliskan cerita ini.
    apakah seseorang harus dinilai karena masa lalunya?
    dengan menyampaikan cerita pak dudung yang pernah tidur bersama sebelum menikah, anda hanya menunjukkan bahwa semua orang pernah berbuat salah, seperti kita semua, bukan?
    aku rasa aku tidak berurusan dengan masa lalu seseorang, bila dari sosok pak dudung aku bisa belajar benyak tentang perjuangan, harga diri, kesetiaan etc, maka itu cukuplah.
    bukankah kita harus menerima kebenaran bahkan bila diucapkan oleh seorang munafik?
    demikianlah, maaf bila kata2ku terdengar keras.
    dan maaf kepada mbk mya, karerna seenaknya menumpang ngobrol.
    wassalam

  11. admin
    yoanitya
    23/12/2008 at 1:38 pm Permalink

    @ Mya : Dewi Perssik oh Dewi Perssik.. kau ku puja sampai mati ku pujaaa! kaauuu deeewiiiikuuu…

    @ Hery : Hmmm… wajar sih Her kalo kamu ngga nangkep apa yang saya ‘lempar’. Karena kamu memang ngga di dalam inner-circle saya dan teman-teman saya disini, sehingga kamu ngga memahami inner-jokes kami. Atau mungkin lebih tepatnya, inner-jokes saya dengan diri saya sendiri (??).

    Dan juga tampaknya saya dan kamu memang tidak share the same sense of humor. Ngga masalah. Pacar saya ketawa ngakak nonton MTV Wild Boyz; saya bolak-balik ngelus dada.

    Atau penjelasan atas friksi ini lebih simple; saya gila. Seenaknya saja saya ngekomen blog teman saya dengan gaya bahasa yang tidak umum! Sehingga menjerumuskan! Menyesatkan! Sungguh wanita ini di luar kendali, Bung Aldo!

    Tapi weits… bentar dulu Her. Coba cermati ulang my previous comment. Apakah disitu saya memberikan judgement saya atas gaya hidup Pak Dudung dahulu? Sebagaimana Hery menyebutnya, “semua orang pernah berbuat salah”. Saya ngga bilang lho itu salah atau benar lho… hayoo… yang mengatakan bahwa past-behavior nya Pak Dudung itu salah siapa hayooo?

    Mengutip anda lagi nih; “bukankah kita harus menerima kebenaran bahkan bila diucapkan oleh seorang munafik?” –> saya ngga menuliskan sebuah label atau cap dengan kata sifat tertentu atas Pak Dudung tuh. Jadi kok tau-tau bisa muncul vocab ‘munafik’ gitu tho?

    Terakhir, Hery, di dalam komen saya tersebut, saya sama sekali ngga menyinggung tentang “menilai seseorang dari masa lalunya”.

    Jadi, pertanyaan kamu tentang apa tujuan saya menulisnya akan saya jawab dengan pertanyaan baru, “menurut kamu?”. Karena saya ngga ngerti kenapa kamu mempermasalahkan ke saya ketidak-nyamanan yang kamu rasakan di dalam hasil interpretasi kamu sendiri.

    dan please deh jangan di jawab, “saya ngga mempermasalahkan kok”. ah c’mon,, if you care enough to comment, then offcourse, buat kamu ini “nyentil”..
    That’s pure logics, dear.

    Happy Blogging to all! =)

  12. well, true story never ending asia… (apaan sih!)

    pelajaran hidup buat yang masih muda: kalau kau tidak siap hidup menderita kala tua, jangan pelajari rumus awet muda.

Hi Stranger, leave a comment:

ALLOWED XHTML TAGS:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Subscribe to Comments